Monitoring Kegiatan CSR, OPLAH, Brigade Pangan dan PM-AAS di Kabupaten Sambas
SAMBAS - Kamis (14/5), Tenaga Ahli Menteri Pertanian (TAM), Dr. Ir. Pamuji Lestari, M.Sc., melanjutkan monev untuk meninjau progres kegiatan strategis Kementerian Pertanian di Kabupaten Sambas, didampingi Kepala Balai Besar (Anjar Suprapto, S.T.P., M.P), Kepala BBPP Batu (Dr. Ir. Ugik Romadi, SST., M.Si), serta Kepala Dinas TPH Kalbar (Ir. Herti Herawati, MMA). Kunjungan diawali di lokasi CSR Brigade Pangan Panca Benua seluas 248,50 ha di Desa Pangkalan Bemban. Meski mekanisasi seperti combine harvester sudah tersedia, TAM menyoroti perlunya penguatan infrastruktur berupa Jalan Usaha Tani (JUT) untuk mobilisasi, peningkatan tinggi tanggul, serta optimalisasi pompa air guna mengatasi kendala lahan salin dan biaya operasional yang tinggi.
Kunjungan berlanjut ke lahan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) seluas 30 ha di Kecamatan Semparuk yang dikelola oleh Ketua Poktan Dare Nandung I (Bapak Sukiman). Metode ini mengadaptasi teknologi Arkansas dengan fitur unggulan manajemen air Alternate Wetting and Drying (AWD) dan pemanfaatan smart farming. Beliau optimis dapat mencapai produktivitas 6 ton/ha dengan indeks pertanaman IP 300, apabila kendala pengairan melalui pengadaan saluran irigasi sekunder dapat ditangani. Selain itu, Pak Sukiman berharap dapat mendukung pasokan beras mandiri untuk program MBG di khususnya wilayah Sambas serta adanya color sorter untuk standardisasi beras premium.
Lokasi ketiga yang ditinjau adalah titik Optimasi Lahan (OPLAH) 2024 dan CSR di Kecamatan Tebas, mencakup Desa Sungai Kelambu, Desa Pusaka, dan Desa Mensere. Lokasi ini menunjukkan kemajuan signifikan dengan pencapaian IP 250 yang didukung oleh alat mesin pertanian seperti rotavator dan drone pertanian serta instalasi Pompa Air Aksial Tenaga Surya (Solar Power Axial Pump) berkapasitas 10 kW untuk mengairi sawah seluas 10 hektar melalui kegiatan Competitive Grant ICARE oleh BRMP Mekanisasi Pertanian. Namun, para Penyuluh Lapangan menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan combine harvester yang masih dalam tahap usulan serta perlunya perluasan pipanisasi untuk memperkuat jaringan irigasi di hamparan sawah seluas 200 ha. Biaya BBM operasional yang tinggi juga menjadi perhatian utama dalam evaluasi di lokasi ini.
Rangkaian kunjungan ini mempertegas komitmen Kementerian Pertanian dalam mengawal modernisasi pertanian di Kalimantan Barat. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah berperan penting dalam menyelesaikan kendala lapangan mulai dari infrastruktur irigasi hingga penyerapan gabah.