Kepala BRMP Kalimantan Barat Hadiri Rapat Koordinasi Rapat Koordinasi Lingkup BRMP Penerapan
Dalam rangka akselerasi penerapan pertanian modern dan hilirasi, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian melaksanakan BRMP AGRIFEST dengan salah satu rangkaian kegiatannya adalah Rapat Koordinasi dalam rangka Akselerasi Penerapan Teknologi Pertanian Modern dan Hilirisasi untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan di Auditorium BRMP Perkebunan pada Kamis, 13 November 2025. Kegiatan ini diarahkan dan dilakukan pembingkaian acara oleh Kepala BRMP Penerapan Dr. Ir. Syamsuddin M. Sc. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Balai lingkup BRMP Selindo.
Rapat koordinasi ini membahas berbagai hal penting yang berkaitan dengan percepatan penerapan teknologi modern dan hilirisasi pertanian, khususnya dalam penyediaan dan kebutuhan benih untuk mendukung program swasembada pangan berkelanjutan tahun 2025 dan 2026. Berdasarkan pemaparan materi, kebutuhan dan penyediaan benih nasional disusun dengan asumsi 30% disediakan oleh petani mandiri, 30% berasal dari bantuan pemerintah, dan sisanya dari pasar bebas atau penyedia mandiri lainnya. Estimasi kebutuhan benih tahun 2026 antara lain untuk padi dengan target tanam 2,7 juta hektar membutuhkan sekitar 94.125 ton benih dengan asumsi 25 kilogram per hektar.
Program cetak sawah dan pertanian reguler juga terus didukung, sedangkan pengembangan padi gogo difokuskan pada varietas tahan kekeringan dengan target tanam 250 ribu hektar pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 500 ribu hektar pada tahun 2026. Selain itu, komoditas lain seperti jagung dengan target tanam 1 juta hektar, kedelai 50 ribu hektar, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar juga menjadi bagian dari program yang mendapat perhatian khusus.
Provinsi seperti NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Papua Barat, dan Papua Selatan dilaporkan mengalami defisit benih, sedangkan Kalimantan Selatan memiliki kelebihan pasokan. Untuk mendukung kemandirian benih, pada tahun 2026 direncanakan pengembangan unit-unit mandiri dengan target produksi sekitar 4.444 ton serta dukungan anggaran sebesar 12 miliar rupiah untuk pembangunan sarana produksi seperti lantai jemur dan peralatan pendukung lainnya. Dukungan sertifikasi dan pelatihan teknis benih juga disalurkan melalui dana darurat provinsi untuk meningkatkan kapasitas daerah.
Rapat koordinasi ini menitik beratkan pada percepatan penyebaran varietas unggul baru dengan dukungan teknologi modern serta hilirisasi yang terintegrasi guna mendukung swasembada pangan berkelanjutan. Tantangan dalam label benih dan kepercayaan petani menjadi perhatian utama, sementara pengembangan sistem pengawasan mutu benih dan edukasi petani dipandang sebagai solusi strategis. Peningkatan kapasitas penangkar benih di daerah seperti NTB juga menjadi catatan positif dalam upaya ini.